Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal
QS. 49 Al-Hujuraat : 13
Maha Suci Allah SWT yang telah menciptakan langit dan bumi serta apa yang berada di antara keduanya dengan hikmah (QS. 3 Ali ‘Imran : 191 dan QS. 38 Shaad : 27). Begitu pula halnya dengan manusia yang diciptakan dalam bentuk yang sangat sempurna (QS. 95 At-Tiin : 4). “dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (QS. 51 Adz-Dzaariyaat : 21). “Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya,” (QS. 79 An-Naazi’aat : 27)
Untuk itu dalam kesempatan ini, penulis ingin mengajak ikhwan/akhawat sekalian untuk mengkaji ciptaan Allah yang paling sempurna ini, dengan membatasi diri dengan segala keterbatasan yang ada yaitu hanya pada kajian tentang wajah.
Perlu jama’ah sekalian ketahui, bahwa terdapat 78 ayat dalam al-Qur’an yang di dalamnya disebutkan kata “وجه”, di mana Allah SWT telah menjelaskan kepada kita dengan sejelas-jelasnya tentang raut muka yang kita miliki selama ini, namun sedikit sekali di antara kita yang menyadari betapa pentingnya wajah yang telah Allah SWT berikan kepada kita.
Dari hasil pengkajian sementara yang telah dilakukan oleh Balai Kajian Teknologi Tauhid selama ini, ditemukan beberapa fungsi dari wajah kita ini, di antaranya adalah:
1. Dengan wajah, Allah SWT telah menciptakan manusia menjadi bersuku-suku dan berbangsa-bangsa (QS. 49 Al-Hujuraat : 13).
Di antaranya adalah:
a. Dari bentuk wajah, mulai dari yang persegi sampai yang bulat.
b. Dari bentuk bibir, mulai dari yang tipis sampai yang tebal.
c. Dari bentuk hidung, mulai dari yang pesek sampai yang mancung.
d. Dari bentuk dahi, mulai dari yang sempit sampai yang lebar.
e. Dari bentuk mata, mulai dari yang sipit sampai yang melotot.
f. Dari bentuk telinga, mulai dari yang kecil sampai yang besar.
g. Dari bentuk rahang, mulai dari yang persegi sampai yang lancip.
h. Dari bentuk dagu, mulai dari yang menyatu sampai yang berbelah.
i. Dari bentuk alis, mulai dari yang tipis sampai yang tebal.
j. Dari bentuk bulu mata, mulai dari yang lentik sampai yang tak beraturan.
k. Dari bentuk pipi, mulai dari yang kempot sampai yang tembem.
l. Dari jumlah bulu, mulai dari yang tak berbulu sampai yang berbulu lebat.
2. Dengan adanya perbedaan wajah, maka kita dapat mengenal dan dapat membedakan manusia antara yang satu dengan yang lainnya (QS. 49 Al-Hujuraat : 13).
Cukup dengan melihat raut wajah seseorang kita sudah dapat menentukan orang tersebut adalah orang asing atau orang yang sudah kita kenal, dengan demikian kita dapat memposisikan diri kita ketika berada di sekitarnya.
Cukup dengan melihat raut wajah seseorang kita sudah dapat menentukan bangsa orang tersebut, apakah dia orang Arab? Atau orang India? Atau orang Cina? Atau orang Jepang? Atau orang Rusia? Atau orang Inggris? Atau orang Perancis, dan sebagainya. Dengan demikian, kita dapat menentukan bahasa dan budaya apa yang harus kita gunakan untuk beradaptasi dengannya.
3. Dengan melihat mimik muka, kita dapat mengetahui apa yang sedang dirasakan oleh seseorang, misalnya ketika dia sedang serius memperhatikan sesuatu (QS. 012 Yusuf : 9), ketika ia sedang marah, sedih dan malu (QS. 016 An-Nahl : 58 dan QS. 043 Az-Zukhruf : 17), ketika hatinya sedang gundah (QS. 017 Al-Israa’ : 7), ketika ia tidak sependapat dengan kita (QS. 022 Al-Hajj : 72 dan QS. 039 Az-Zumar : 24), ketika ia sedang kaget dan malu (QS. 051 Adz-Dzaariyaat : 29), ketika ia sedang senang (QS. 083 Al-Muthaffifiin : 24), dan masih banyak lagi perasaan-perasaan yang dapat terungkap dari mimik muka seseorang.
4. Dengan memalingkan wajah ke arah kiblat, kita dapat berkomunikasi dengan Allah SWT secara khusu’, baik pada saat kita melaksanakan perintah shalat (QS. 002 Al-Baqarah : 144, QS. 002 Al-Baqarah : 148, QS. 007 Al-A’raaf : 29, QS. 010 Yunus : 105, QS. 020 Thaahaa : 111, QS. 030 Ar-Ruum : 30, QS. 030 Ar-Ruum : 43) maupun pada saat kita keluar/datang dari suatu tempat menuju ke tempat yang lain (QS. 002 Al-Baqarah : 149, QS. 002 Al-Baqarah : 150, QS. 028 Al-Qashash : 22).
5. Dengan wajah, kita dapat menangkap sinyal-sinyal Allah di mana pun kita berada, apalagi ketika berada di sekitar Ka’bah, tentulah sinyalNya semakin baik (QS. 002 Al-Baqarah: 115, QS. 002 Al-Baqarah : 150, QS. 006 Al-An’aam : 79, ).
6. Dengan wajah, para malaikat dapat membedakan antara penghuni surga dan penghuni neraka (QS. 003 Ali ‘Imran : 106, ) yaitu:
a. Manusia yang bertaqwa yang akan menjadi penghuni surga, raut wajahnya putih berseri-seri tidak tertutup oleh debu hitam dan tidak pula mendapat kehinaan (QS. 048 Al-Fath : 29, QS. 003 Ali ‘Imran : 107, QS. 010 Yunus : 26, QS. 075 Al-Qiyaamah : 22, QS. 080 ‘Abasa : 38, dan QS. 088 Al-Ghaasyiyah : 8); dan
b. manusia yang kafir yang akan menjadi penghuni neraka, raut wajahnya hitam muram tertutup oleh debu hitam dari api neraka, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gelita, mereka menggunakan pakaian dari ter (aspal) dan wajahnya menghadap ke belakang (QS. 004 An-Nisaa’ : 47, QS. 010 Yunus : 27, QS. 014 Ibrahim : 50, QS. 033 Al-Ahzab : 66, QS. 039 Az-Zumar : 60, QS. 067 Al-Mulk : 27, QS. 075 Al-Qiyaamah : 24, QS. 080 ‘Abasa : 40, dan QS. 088 Al-Ghaasyiyah : 2). Wajah yang hitam tersebut, disebabkan oleh pukulan malaikat pada muka dan punggung mereka dengan api neraka ketika nyawanya dicabut (QS. 008 Al-Anfaal : 50, QS. 021 Al-Anbiyaa’ : 39 dan QS. 047 Muhammad : 27). Sepanjang perjalanan ke neraka, mereka akan diseret dengan mukanya menghadap ke bawah dan dalam keadaan cacat (buta, bisu dan tuli) dan setibanya di neraka muka mereka akan disungkurkan ke dalam api neraka (QS. 017 Al-Israa’ : 97, QS. 023 Al-Mu’minun : 104, QS. 025 Al-Furqaan : 34, QS. 027 An-Naml : 90, QS. 054 Al-Qamar : 48 dan QS. 067 Al-Mulk : 22,), ketika mereka meminta minuman, mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan mukanya (QS. 018 Al-Kahfi : 29).
7. Dengan wajah, kita dapat mengetahui sudah berapa banyak pahala dan dosa yang telah kita lakukan. Untuk itu, tentunya kita harus menjadikan wajah sebagai indikator pahala dan dosa, dengan berpatokan bahwa semakin banyak orang yang tersenyum berarti semakin banyak pahala kita, dan semakin banyak orang yang cemberut berarti semakin banyak dosa kita.
8. Dengan mimik muka, kita dapat berkomunikasi dengan siapa pun (bahkan dengan makhluk lain selain manusia) tentang apa yang kita inginkan, meskipun kita sama sekali tidak dapat memahami bahasa yang mereka gunakan, karena mimik muka merupakan salah satu bahasa isyarat tubuh (body language) yang berlaku secara universal (bagi seluruh makhluk).
Dengan mimik muka, kita juga dapat mengidentifikasi kesehatan seseorang, yaitu ketika dia tersenyum berarti kondisi jasmaninya dalam keadaan baik, dan ketika dia meringis berarti ada bagian dari tubuhnya yang kondisinya tidak baik. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.
Perumpamaan orang-orang yang mu’min dalam saling cinta mencintai dan salih kasih mengasihi itu adalah bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggota merasa sakit, maka terbawa-bawa pula yang lainnya dengan ikut merasakan panas badan terus melek (terjaga).
HR. Bukhari dan Muslim
Dengan mengetahui fungsi wajah tersebut di atas, maka tidak heran pada saat sekarang banyak sekali upaya-upaya yang dilakukan oleh manusia untuk merubah beberapa bagian pada wajahnya dengan tujuan agar nasibnya pun ikut berubah. Bahkan tidak sedikit istilah-istilah yang dipergunakan yang berkaitan dengan wajah, dari istilah-istilah yang bermakna baik seperti senam wajah, rias wajah, sketsa wajah, dan lain-lain, sampai istilah-istilah yang bermakna jelek seperti cari muka dan bermuka dua. Selain dari pada itu, tidak sedikit pula peralatan-peralatan yang telah dibuat oleh manusia dalam rangka merubah wajahnya, mulai dari peralatan yang berukuran besar seperti meja tiolet sampai ke peralatan yang paling kecil seperti bulu mata palsu. Bahkan hampir di setiap super market telah tersedia stand khusus yang menjual berbagai macam ragam peralatan dari berbagai macam merek yang berfungsi untuk merubah wajah.
Padahal dengan sangat jelas Allah SWT telah berfirman bahwa “sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. 95 At-Tiin : 4) dan pada ayat yang lain “…boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. 2 Al-Baqarah : 216) dan “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. 4 An-Nisaa’ : 147). Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. 14 Ibrahiim : 7).
Demikianlah, delapan fungsi di antara sekian banyak fungsi wajah yang telah kita ketahui bersama. Untuk itu, marilah kita kaji dan kaji lagi lebih dalam tentang hikmah-hikmah di balik ciptaan Allah yang sedemikian banyaknya. Karena, bukan kah yang seperti itu yang telah diperintah oleh Allah SWT kepada kita semua, melalui firman-firmanNya dengan redaksi: تعقلون sebanyak 24 ayat, تتفكرون sebanyak 3 ayat, تتذكرون sebanyak 20 ayat, ذكّر sebanyak 6 ayat, تنظرون sebanyak 4 ayat dan masih banyak lagi redaksi-redaksi lainnya yang memerintahkan kita untuk menggunakan akal fikiran kita.
Sehingga, andaikan seluruh pohon di muka bumi ini dijadikan pena dan seluruh air di lautan dijadikan tinta, maka tak akan cukup untuk menulis nikmat-nikmat Allah SWT tersebut (QS. 18 Al-Kahfi : 109 dan QS. 31 Luqman : 27).
Sekedar untuk mengingatkan, berikut firman Allah SWT pada QS. 2 Al-Baqarah : 177:
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.